Bangkitnya Juventus Dari Jeratan Calciopoli Semua di mulai pada musim panas 2006. Hanya lima hari setelah mengangkat trofi Piala Dunia 2006, para pemain timnas Italia yang berasal dari Juve, seperti Gianluigi Buffon, Alessandro del Piero, Fabio Cannavaro, Gianluca Zambrotta, dan Mauro Camoranesi harus menghadapi kenyataan bahwa Juve akan bermain di kasta kedua sepakbola Italia.
Juve, bersama dengan Lazio dan Fiorentina yang ikut terlibat dalam skandal calciopoli, divonis turun ke Serie B untuk 2006-07, meskipun dua nama terakhir berhasil melakukan banding di pengadilan dan hanya menerima hukuman pengurangan poin di Serie A musim 2006/07.
Juve, yang diberi hukuman pengurangan 30 poin, akhirnya berhasil menguranginya menjadi hanya minus 9 poin, namun tetap harus berlaga di Serie B musim 2006/07.
Harapan mereka untuk segera kembali ke papan atas pun menemui hambatan setelah beberapa pemain kunci memilih untuk hengkang, mulai dari Patrick Vieira, Zlatan Ibrahimovic, Emerson, Lilian Thuram, Adrian Mutu, hingga para juara dunia seperti Zambrotta dan Cannavaro.
Sedangkan trio juara dunia lainnya, Buffon, Camoranesi dan Del Piero memutuskan untuk bertahan, bersama dengan bintang Juve lainnya seperti Pavel Nedved, David Trezeguet, dan Giorgio Chellini yang masih muda. Mereka semua berperan penting dalam membawa Juve kembali ke Serie A pada percobaan pertama dan berhasil memenangkan gelar Serie B dengan raihan 85 poin, unggul enam poin atas Napoli di peringkat dua, serta hanya mengalami 4 kekalahan dari 42 pertandingan liga.
Bianconeri kala itu dilatih Didier Deschamps, yang berhasil memenangi Liga Champions bersama Juve pada 1996. Namun Deschamps mundur setelah Juve memastikan diri sebagai juara di pekan 40 cekcok dengan manajemen, khususnya direktur sepakbola Juve kala itu, Alessio Secco. Deschamps pun diganti oleh Claudio Ranieri di musim berikutnya.
Kembali ke Eropa bersama Ranieri dan konsisten bersama Conte
Juventus menjalani comeback pertama mereka di Serie A 2007/08 bersama Claudio Ranieri. Di akhir musim, ia pun berhasil membawa Bianconeri kembali ke Liga Champions setelah menduduki posisi ketiga klasemen di akhir musim.
Sayangnya, di musim depan ia tak mampu mempertahankan posisinya setelah Juve tersingkir di babak 16 besar Liga Champions oleh Chelsea dan terpaut 10 poin dari Inter Milan yang bertengger sebagai pemuncak klasemen Serie A 2008/09. Padahal kala itu Juve berada di peringkat dua, atau lebih baik dari hasil di musim sebelumnya.
Yang lebih parah, 3 manajer Juve berikutnya dalam dua musim – Ciro Ferrara, Alberto Zaccheroni dan Luigi Delneri – gagal memberikan dampak positif yang lebih besar ketimbang Ranieri.
Selama dua musim tersebut, Juve selalu finish di posisi ketujuh klasemen akhir Serie A. Juve juga tersingkir di babak grup Liga Champions 2009/10 dan juga babak grup Liga Europa semusim setelahnya.
Meskipun terlihat sedang mengalami kemunduran, namun sang pemilik klub, Andrea Agnelli, berhasil membuat sebuah keputusan krusial dalam periode kelam tersebut, yaitu merekrut Giuseppe Marotta dari Sampdoria. Kedatangannya pun diikuti perubahan besar-besaran dalam struktur tim, mulai dari para pemain hingga staf kepelatihan.
Di tahun pertamanya, Marotta berhasil mendatangkan Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli – dua pemain yang kini menjadi bagian sentral dari ketangguhan sektor pertahanan Juve – sebelum akhirnya menunjuk Antonio Conte sebagai manajer Juve di musim panas tahun 2011.
Sama seperti yang ia lakukan di Chelsea musim ini, Conte menerapkan sistem permainan yang mengandalkan 3 bek tengah, dan mengubah Juve menjadi tim yang kuat dalam penguasaan bola dan sulit ditembus.
Hasilnya pun bisa langsung terlihat – ia membawa Juve meraih scudetto pertama sejak promosi kembali ke Serie A, bahkan dengan status tak terkalahkan di 38 partai liga. Selama 3 musim melatih Juve, ia mampu meraih scudetto 3 kali beruntun dan juga 2 Piala Super Italia.
Rumah baru, Juventus yang baru
Salah satu hal yang dianggap menjadi faktor penting kebangkitan Juve adalah kepindahan mereka ke J-Stadium, stadion megah yang dibangun di tanah bekas berdirinya stadion lama Juve, Delle Alpi, pada tahun 2011.
Meskipun kapasitas stadion ini jauh berkurang dibandingkan Delle Alpi (dari 69.000 menjadi hanya 41.254 tempat duduk), namun atmosfer stadion ini jauh berbeda dibandingkan pendahulunya, bahkan lebih baik.
“Delle Alpi sangat tidak populer di mata suporter. Hal ini dikarenakan adanya trek lari yang memisahkan tribun dengan lapangan. Pemandangan (dari tribun ke lapangan) secara umum juga tidak baik. Stadion tersebut juga jarang terisi penuh.”
“(Bahkan) di musim terakhir Juventus memainkan partai Liga Champions di sana (2005/06), Delle Alpi hanya memiliki rata-rata kehadiran 12.285 penonton di babak penyisihan grup. Kunjungan Bayern Munich (di babak penyisihan grup) pun hanya mampu menarik 16.076 penonton. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah membangun lagi (stadion baru),” ujar pakar sepakbola Eropa, Andy Brassell.
Juventus pun melakukannya, dan mendapatkan hasil positif. Sejak pindah ke sana, Juve hanya kalah di tiga pertandingan kandang Serie A, dan hanya kalah 5 kali di seluruh kompetisi. Sebuah pencapaian yang fantastis tentunya.
Allegri yang awalnya diremehkan, namun membawa dampak yang luar biasa
Meskipun Conte mampu membawa Juve meraih kembali kejayaan domestik, namun ia gagal membawa Juve sukses di Eropa. Mereka disingkirkan Bayern Munchen di perempat final Liga Champions 2012/13 dan bahkan gagal lolos babak penyisihan grup di musim berikutnya.
Ketika Conte meninggalkan Juve pada bulan Juli 2014 untuk melatih timnas Italia, dia mengungkapkan alasannya, yaitu dia tidak diberi kebebasan finansial untuk membangun klub agar bisa bersaing dengan klub papan atas Eropa.
Kata-katanya saat itu bahkan terekam dengan jelas sampai sekarang, yang artinya kira-kira : “Anda tidak bisa duduk di restoran yang makanannya berharga 100 euro jika anda hanya memiliki 10 euro di kantong”. Well, mungkin itulah ‘hadiah’ perpisahan pahit dari Conte.
Manajemen Juve pun akhirnya menunjuk Massimiliano Allegri sebagai manajer baru. Sempat diremehkan pada awalnya, bahkan oleh suporter Juve sendiri, ternyata ia mampu menjawab keraguan dengan hasil yang luar biasa.
Meskipun gaya main Juve menjadi lebih pragmatis dibandingkan saat diasuh Conte, namun hasilnya lebih baik. Allegri membawa Juve meraih gelar Serie A, Coppa Italia (yang tak bisa diraih Conte), dan berhasil mencapai final Liga Champions pada tahun 2015 meskipun akhirnya kalah 3-1 dari Barcelona. Sebuah hasil yang membuat Marotta mampu menyindir balik ucapan Conte saat ia hengkang.
“Perubahan pelatih memberi sesuatu yang lebih pada Juventus, karena dalam dua bulan pertama musim ini kami ingin membuktikan bahwa kami masih yang terbaik,” ujar Chiellini pada Maret 2015. Ia pun menambahkan, “Kami ingin membuktikan kepada semua orang, dan yang terpenting, pada diri kami sendiri bahwa kami adalah tim yang hebat.”
Kekalahan oleh Barcelona memicu perubahan skuad besar-besaran dalam tubuh Juve seiring keinginan Allegri untuk membawa Juve menjadi lebih tangguh.
Komposisi pemain bertahan Juve yang sudah kuat selama ini tak mengalami banyak perubahan, namun tambahan signifikan terjadi dalam sektor tengah dan penyerangan.
Mantan gelandang Roma Miralem Pjanic, misalnya, telah membuktikan bahwa ia lebih dari sekedar pengganti Paul Pogba, yang pindah ke Manchester United di musim panas lalu. Di sektor depan, Paulo Dybala yang dididatangkan dari Palermo pada tahun 2015, telah bermain apik sejauh ini hingga dibanding-bandingkan dengan Lionel Messi.
Sedangkan mantan striker Napoli, Gonzalo Higuain telah mencetak 32 gol dalam 49 penampilan musim ini (sampai 9 Mei 2017). Conte mungkin meninggalkan kesan yang sedikit kurang baik dengan kata-katanya terkait ‘restoran 100 euro’, namun ia ada benarnya. Juve akhirnya mengeluarkan uang banyak untuk keperluan skuad Allegri. Itu ditunjukkan kala membeli Higuain seharga 90 juta euro di musim panas lalu. Pjanic dan Dybala pun didatangkan dengan harga masing-masing 32 juta euro.
Meskipun demikian, Juve masih tak mengubah kebiasaan mendatangkan pemain murah namun handal. Itu dibuktikan kala merekrut Sami Khedira dan Dani Alves. Strategi transfer yang jitu ini pun memberikan hasil yang setimpal. Permainan luar biasa kala menyingkirkan Barcelona dan Monaco, serta hanya kebobolan 3 gol di Liga Champions musim ini menunjukkan bahwa mereka sekarang sedang bersantap di restoran mahal bersama tim-tim elite Eropa lainnya.
Perjalanan Juventus kembali menjadi yang terbaik di Eropa bukanlah jalan yang mudah, namun mereka sudah menunjukkan kehebatan mereka selama setengah dekade terakhir. Mereka sudah pernah gagal meraih treble di tahun 2015 dan sudah banyak belajar sejak saat itu. Kini, dua tahun berselang, kans itu muncul lagi.
Mereka sekarang hanya berjarak 3 partai lagi untuk meraih 3 trofi prestisius. Mereka akan menentukan nasib mereka di Stadio Olimpico untuk menghadapi AS Roma pada 14 Mei (pekan 36 Serie A), kemudian menghadapi Lazio (final Coppa Italia) di tempat yang sama tiga hari berselang, dan menuntaskan musim di Millennium Stadium (final Liga Champions) pada 3 Juni.
Bukan tugas yang mudah, mengingat klub-klub tersebut punya kekuatan untuk menjungkalkan Juve. Namun mereka tak akan membuang kesempatan langka ini. Juve tentu sadar inilah momen yang tepat untuk menjadi yang terbaik di Italia dan Eropa, dan mereka akan berjuang habis-habisan untuk meraih tiga gelar tersebut, sekaligus mengembalikan kejayaan Italia di kancah sepakbola Eropa.
Update : Juventus gagal menjuarai Liga Champions 2017 setelah kalah 1-4 dari Real Madrid. Ini kekalahan ketujuh mereka di final Champions League/European Cup.
*) Tulisan ini merupakan saduran dari artikel berjudul ‘Juventus: From Serie B to another Champions League final – the Old Lady’s rise’ dengan beberapa perubahan.
Sumber : adhiiprasetya.wordpress.com

0 komentar
Posting Komentar