Kisah Juara Juventus di Medio 90an Medio akhir 1990-an akan selalu menjadi kenangan indah buat Juventus dan seluruh juventini di dunia. Ya, pada masa itu Juventus sedang meraih puncak kesuksesan sebagai sebuah klub sepak bola. Pada masa itu, Juventus mempunyai skuad impian segala tim sepakbola. Pelatih mana yang tidak menginginkan Angelo Peruzzi (kiper), Ciro Ferrara (pemain belakang), Antonio Conte (gelandang bertahan), maupun Zinedine Zidane (gelandang serang) dalam tim racikan mereka? Dengan skuad seperti itu, mereka menjuarai berbagai trophi pada saat itu. Puncaknya, La Vevhia Signora berhasil mengawinkan Piala Champion (saat ini disebut liga Champion), Piala Super Coppa Eropa (Juara Liga Champion Vs Juara Liga Eropa) dan Piala Interkonental (Piala Dunia Antar Klub) sekaligus pada tahun 1996.
Diawali pada tahun 1994 saat Juventus mendatangkan pelatih (saat itu) muda berbakat -yang kemudian menjadi legenda Juventus sebagai pelatih-, Marcelo Lippi. Pada saat itu, banyak kalangan mempertanyakan kapasitas Lippi sebagi pelatih. Sebelum melatih Juventus, Lippi hanya melatih Cesena, Luchesse, Atalanta, dan terakhir Napoli. Bersama klub yang terakhir disebut, ia meraih juara Uefa Cup yang merupakan prestasi Lippi terbaik pada sebelum berlabuh ke Juventus. Dengan prestasi seperti itu, wajar jika kemudian banyka yang meragukan kapasitas Lippi untuk menukangi Juventus saat itu.
Namun, Lippi lantas menjawab semua keraguan itu. Ia lansung membawa Juventus menjuarai Serie A Italia tahun 1994/1995, musim perdananya sebagai pelatih Juventus. Trophy ini sekaligus menjadi rangkaian awal kesuksesan Juventus dibawah asuhan Lippi.
Prestasi itu kemudian dilanjutkan dengan musim yang fenomenal pada 1995/1996. Meski gagal mempertahankan scudetto, Juventus berhasil menasbihkan diri sebagi tim terbaik di Eropa saat mengalahkan Ajax Amsterdam yang saat itu diperkuat oleh Davids, Van Der Sar, Seedorf, dan pemain-pemain bintang lainnya pada final Piala Champion. Pada tahun itu juga, Juventus juga memproklamirkan diri sebagai tim sepak bola nomor wahid di dunia dengan menjuarai Piala Dunia Antar Klub.
Dari tahun 1996, Juventus berhasil melaju ke tiga final Liga Champion berturut-turut -hal yang bahkan belum mampu dilakukan Barcelona era Guardiola saat ini-. Sayang, Juventus hanya mengunci satu gelar di antaranya. Sebagai gelar hiburan, Juventus berhasil kembali merebut scudetto pada tahun 1997.
Setelah sepuluh tahun belalu sejak Juventus merebut tahta Liga Champion, Juventus kehilangan sinarnya. Semenjak terdegradasi didegradasi akibat skandal calciopoli (yang masih diperdebatkan hingga kini) pada tahun 2006, Juventus hanya menjuarai Serie B belum sekalipun menggenggam kenikmatan merebut trophy, kecuali Serie B yang diperoleh pada tahun 2006.
Kini, di bawah komando coach Conte yang juga merupakan salah satu anak asuh Lippi saat merebut Liga Champion pada 1996, Juventus siap menyongsong kembali sinar yang telah sekian lama redup. di bawah asuhannya, diharapkan Juventus akan kembali mengikuti jejak sang maestro Marcelo Lippi saat didatangkan 16 tahun silam.
Juventus medio akhir 1990-an merupakan kenangan. Ia akan selamanya menjadi memoar indah buat Juventini di seluruh dunia. Kini saatnya membangun Juventus baru, Juventus yang akan kembali merajai sepakbola Italia, Eropa, atau bahkan dunia.
Sumber : juventiniarena.wordpress.com

0 komentar
Posting Komentar